Minggu, 07 Februari 2010

Kesultanan Pelalawan (1761-1959)


Berdasarkan sumber dari penulis asing, sejarah Kesultanan Pelalawan bermula pada tahun 1761 M. Sultan pertamanya adalah As-Syaidis Syarif Abdurrahman Facruddin atau yang dikenal dengan Marhum Kota. Sultan terakhirnya adalah As-Syaidis Syarif Harun bin Hasyim Fachruddin atau yang dikenal dengan Marhum Setia Negara yang memerintah pada tahun 1940-1959 M.

Kesultanan Pelalawan saat ini berada di wilayah kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. (Tengkoe Nazir, Sari Sejarah Pelalawan, 1984).


Pengaruh Islam

Dalam “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” yang berlangsung di Medan (1963), sebagian ulama dan para ahli sejarah Islam telah menyatukan pendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada Abad 1 Hijrah atau dalam Abad VII dan VIII Masehi, langsung dari Tanah Arab ke Pasai. Bukan tidak mungkin, para da’i yang berprofesi juga sebagai pedagang yang berasal dari Arab telah singgah dan menyeberangi Sungai Kampar. Sebab, dalam sejarah disebutkan bahwa sepanjang Sungai Kampar terdapat bandar-bandar dan pelabuhan-pelabuhan yang ramai, terutama dalam perdagangan lada dan emas. Dengan adanya Sungai Kampar inilah selanjutnya perkembangan Islam menyebar ke Kuantan, Rokan dan Minangkabau Sumatera Barat sekitar Abad XIII dan XV.

Petunjuk dan bukti bahwa Islam benar-benar sudah menjadi budaya masyarakat Pelalawan adalah adanya peninggalan kebudayaan yang bernafaskan Islam yang masih dipegang erat oleh masyarakat Pelalawan. Ulama yang berjasa besar dalam penyebaran Islam di daerah Kesultanan Pelalawan adalah:

1. Said Syarif Abdullah bin Jaafar bin idrus bin Abdullah bin Idrus berasal dari Hadramaut. Beliau adalah seorang ulama zuhud berpangkat waliyullah yang diutus dari Kekhilafahan Ustmaniyah. Wafat di Pelalawan pada tahun 1821 M dan dimakamkan di Mempusun Pelalawan.

2. Syaikh Mustafa Alkhalidy bin Marhum Muhammad Baqir Sungai Tabir Jambi yang belajar Islam dari Tanah Suci Makkah.


Syariah Islam: Sendi Aturan Masyarakat

Di bidang sosial kemasyarakatan, Islam tampak memberikan pengaruh atas setiap permasalahan yang dihadapi Sultan. Jika terkait dengan masalah yang mubah maka terlebih dulu diselesaikan dalam cara musyawarah untuk mencapai mufakat. Setiap sultan yang telah mangkat atau wafat secara khusus diberi gelar khusus, yakni marhum, atau almarhum (yang dirahmati). Inilah beberapa ciri bagaimana syariah Islam dijadikan sebagai budaya dalam kehidupan bermasyarakat.

Di bidang hukum/peradilan, Islam menjadi pedoman utama. Hal ini terbukti dengan adanya satu gedung yang hingga saat ini masih ada yang khusus digunakan untuk menyidangkan perkara-perkara yang berkaitan dengan hudûd, jinâyât dsb. Gedung peradilan ini menjadi tempat penyelesaian seluruh masalah hukum; tidak dibedakan apakah itu hukum militer atau hukum sipil, ataupun hukum perdata atau pidana. Semua perkara diselesaikan dalam satu peradilan.

Di bidang pemerintahan, sebagaimana kesultanan lain di Nusantara, struktur pemerintahan Kesultanan Pelalawan tidak jauh berbeda. Struktur tertinggi adalah sultan, dibantu oleh 4 datuk sebagai wazir/pembantu (Datuk Angku Raja Lela Putera, Datuk bandar Setia Diraja, Datuk Laksemana Mangku Diraja, dan Datuk Kampar Samar Diraja). Masing-masing datuk memimpin dan mengurus wilayahnya masing-masing—kalau sekarang setingkat kecamatan.

Menurut Adat Melayu, oleh penulis asing selalu disebut Adat Tumenggung, orang-orang besar Kerajaan diangkat dengan atau tanpa permufakatan bersama Sultan, diberi gelar yang dianggap patut. Mereka dipercaya untuk memegang fungsi-fungsi penting seperti: Panglima Perang, Laksemana, Syahbandar, Bentara dan lain-lain. Struktur terkecil adalah kebatinan atau penghulu; berjumlah 29 (Tengkoe Nazir, Sari Sejarah Pelalawan,1984).


Hubungan Kesultanan Pelalawan dengan Khilafah Ustmaniyah

Hubungan Kesultanan Pelalawan dengan Khilafah Ustmaniyah sangat erat, seperti halnya Kesultahanan Malaka dengan Khilafah Ustamaniyah. Ketika terjadi perang melawan Belanda, Kesultanan Pelalawan mendapat bantuan meriam atau persenjataan langsung dari Kesultanan Mlaka atas Perintah Khilafah Ustmaniyah. Hal ini dinyatakan langsung oleh Tokoh atau Budayawan Riau, H. Tenas Efendi, ketika menjelaskan sejarah Kesultanan Pelalawan. Beliau merupakan keturunan Sultan Pelalawan.
Hubungan lain yang dapat dilihat adalah dari pakaian resmi Sultan Pelalawan yang sama persis dengan pakaian resmi Sultan di Malaka dan Khalifah Ustmani di Istanbul Turki. Ini bukanlah sesuatu yang tidak disengaja. [Gus Uwik]


Sumber :
http://www.seruan-global.com/jejak-nusantara/kesultanan-pelalawan-1761-1959.html
13 September 2009

Sumber Gambar:
http://zakiapoem.blogspot.com/

Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing)


Sebagian besar daerah-daerah di Kabupaten Kuantan Singingi berfungs sebagai sentra perkebunan Karet dan perkebunan Kelapa Sawit. Disamping itu, di sektor pertanian daerah ini juga memproduksi beraneka ragam komoditi antara lain Padi, Sayur-sayuran, dan buah-buahan seperti Jeruk, Rambutan, Mangga, Pisang dan lain-lain.

Informasi Umum

Secara geografis Kabupaten Kuantan Singingi terletak pada posisi 0 º00' LU - 1º00' LS dan 101º02' BT - 101º55' BT dengan wilayah seluas 5.202,16 km². Ibu Kota Kabupaten Kuantan Singingi adalah Taluk Kuantan.

Jarak antara Ibu Kota Kabupaten Kuantan Singingi dengan Kota Pekanbaru adalah 115,90 km. Iklim daerah kabupaten ini adalah tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 32,6º C - 36,5º C dan suhu udara minimum berkisar antara 19,2º C - 22,0º C.

Pada tahun 2006, jumlah curah hujan di Kabupaten Kuantan Singingi adalah 1.617 mm/tahun. Jumlah curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret dengan jumlah 245 mm. Sementara jumlah curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu 49 mm dan jumlah hari terjadi hujan dalam setahun adalah 120 hari.

Berikut ini batasan-batasan wilayah Kabupaten Kuantan Singingi:

Utara : Kabupaten Kampar dan Pelalawan

Selatan : Provinsi Jambi

Barat : Provinsi Sumatera Barat

Timur : Kabupaten Indragiri Hulu

Secara administrasi Kabupaten Kuantan Singingi dibagi kedalam 12 kecamatan, 11 kelurahan dan 198 desa. Jumlah penduduk Kuantan Singingi berdasarkan sensus penduduk tahun 2006 adalah 249.606 jiwa dengan rata-rata kepadatan penduduk adalah 47,98 jiwa/km².

Penduduk di kabupaten ini sebagian besar bekerja di sektor pertanian (68.43%), sisanya bekerja pada sektor perdagangan (13.14%), sektor industri (6,55%), sektor jasa (5,60%), sektor transportasi dan komunikasi (2,99%), sektor konstruksi (2,30%), sektor pertambangan, listrik, gas dan air (0,68%). Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuantan Singingi tanpa Migas cenderungmeningkat. Pada tahun 2003 jumlah PDRB tanpa Migas adalah Rp. 1,8 triliun. PDRB tanpa Migas tahun 2004 adalah Rp. 1,9 triliun dan pada tahun 2005 PDRB tanpa Migas adalah Rp. 2,1 triliun (Sumber BPS Kabupaten Kuantan Singingi, 2007).

Sebagai salah satu kabupaten diantara kabupaten-kabupaten lain yang ada di Provinsi Riau, Kabupaten Kuantan Singingi secara berkelanjutan melakukan peningkatan fasilitas dan infrastruktur. Fasilitas dan infrastruktur yang telah tersedia saat ini antara lain:

Jaringan jalan (1.620,69 km, terdiri dari 329,54 km kondisi jalan bagus, 576,69 km kondisi jalan sedang dan 714,46 km kondisi jalan rusak)

Jaringan listrik dengan kapasitas terpasang 4,180 MVA (masih sangat kecil jika dibandingkan kebutuhan masyarakat energi listrik yaitu 45,752 MVA)

Jaringan telekomunikasi dan pos (telepon kabel, telepon selular, dan saat ini telah tersedia jaringan internet)

Air bersih, dikelola oleh PDAM dibeberapa kecamatan dengan kapasitas volume 483.804 m3
Pelayanan kesehatan, RSUD 1 unit, Puskesmas 16 unit, Puskesmas Pembantu 63 unit dan 4 dokter spesialis, 37 dokter umum, 15 dokter gigi

Perbankan, BNI, BRI, Bank Riau, BPR dan ATM

Pendidikan (Sekolah Dasar, Sekolah Lanjut Tingkat Pertama dan Tingkat Atas, Institut


Catatan

Kuantan Singingi adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Riau. Tidak ubahnya seperti kabupatem lainnya di Riau, Kuantan Singingi mengambil namanya dari sungai yang mengalir di Kabupaten itu, Sungai Kuantan. Ibu Kota Kuantan Singingi berpusat di Taluk Kuantan.

Kuantan Singingi merupakan pecahan kabupaten Indragiri Hulu, namun pada tahun 1999 Kuantan Singingi (Kuansing) resmi menjadi sebuah kabupaten. Salah satu event tahunan yang plaing menarik di Kuansinng adalah Festival Pacu Jalur yang selalu ramai pengunjung.

Daftar Nama Bupati Kuansing
Hingga sekarang pejabat Bupati Kuantan Singingi sudah mengalami beberapa kali pergantian diantaranya:

1. Drs. H. Rusdji S Abrus periode tahun 2000 – 2001
2. Drs. H. Asrul Ja’afar periode 2001 – 2006
3. H. Sukarmis periode tahun 2006 – sekarang

Kecamatan di Kuansing
- Kuantan Tengah
- Singingi
- Kuantan Mudik
- Kuantan Hilir
- Cerenti
- Benai
- Hulu Kuantan
- Gunung Toar
- Singingi Hilir
- Pangean.
- Logas Tanah Darat
- Inuman

Dalam 12 kecamatan diatas di Kabupaten Kuansing, setidaknya saat ini ada 151 pemerintahan Desa/Kelurahan.


Sumber :
http://nntp.riau.go.id/index.php?mod=halutama&link=kuansing
http://www.pekanbaruriau.com/2009/11/kabupaten-kuantan-singingi-kuansing.html

Potensi Wisata Kabupaten Kampar


Candi Muara Takus
ini terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar atau jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir sungai Kampar Kanan. Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter, diluar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan candi Tua, candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.Selain dari candi Tua, candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Diluar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya. Kompleks candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat budhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Budha berkembang di kawasan ini beberapa abad yang silam. Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Tapi jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.

Taman Rekreasi Stanum
merupakan sebuah tempat rekreasi yang terletak di ibukota Kabupaten Kampar, berjarak 1 Km dari pusat kota. Tempatnya menarik dan strategis, yakni berada diatas perbukitan yang berhawa sejuk dengan pepohonan yang rindang. Kawasan ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas, diantaranya tempat pemandian, Musholla, Gedung Perternuan, Motel, Restoran, Panggung Hiburan, Bioskop dan Kolam Renang INDOPURA berskala Internasional, yang pernbangunannya merupakan hasil kerjasama pemerintah Indonesia dengan angkatan udara pemerintah Singapore.

Air Terjun Merangin
terletak di desa Merangin Kecamatan Bangkinang Barat, merupakan objek wisata yang memiliki keindahan alam berupa air terjun dan kawasan hutan yang masih asli dengan flora yang sangat khas. Jenis objek wisata ini adalah wisata petualangan dengan menelusuri hutan sambil menikmati kesegaran dan ketenangan serta keindahan alam di dalam dan disekitar hutan tersebut.

Mesjid Jamiâ
berlokasi di Air Tiris Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar. Mesjid Jamiâ dekat Pasar Air Tiris Kecamatan Kampar, mesjid ini juga memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan mesjid-mesjid lain di Propinsi Riau. Mesjid ini dibangun pada tahun 1901. Pada puncak atapnya terdapat tingkatan menara yang cukup tinggi dan bahan bangunannya terbuat dari kayu tanpa menggunakan paku besi. Di luar mesjid terdapat sebuah sumur yang di dalamnya terendam batu besar yang mirip kepala kerbau. Konon, batu tersebut selalu berpindah tempat tanpa ada yang memindahkannya. Oleh masyarakat tempatan mesjid ini dianggap keramat dan kini banyak mendapat kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara, terutama dari Singapura dan Malaysia untuk membayar nazar dan mandi di sumurnya. Kunjungan yang terbanyak sesudah Bulan Puasa atau pada hari raya Puasa Enam.

Museum Kandil Kemilau Emas
berlokasi di Pulau Belimbing Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar. Museum ini resminya baru pada tanggal 22 Mei 1988 berada di pulau Belimbing Kuok Bangkinang. Museum ini adalah sebuah rumah berbentuk rumah Adat Lima Koto Kampar yang dibangun sekitar tahun 1900 oleh almarhum Haji Hamid. Kini dalam museum ini tersimpan berbagai barang antik koleksi yang memiliki nilai sejarah seperti Barang tembikar, Alat Pertukangan, Alat Pertanian, Alat-alat penangkap ikan, alat-alat kesenian, Alat-alat pelaminan, Alat-alat perdagangan, Alat pesta dan lain-lain. Disamping alat-alat tersebut tersimpan pula dayung perahu dagang terbuat dari kayu yang sangat kuat berasal dari abad ke 18, serta sebuah kompas yang terbuat dari bambu yang dibuat oleh bangsa China karena angka-angka yang tertulis pada kompas tersebut ditulis dalam aksara China. Ada dua ratus lima puluh (250) macam barang antik koleksi musium Kandil Kemilau Emas yang semuanya merupakan koleksi warisan yang telah turun temurun sebagai barang pusaka.

Makam Syekh Burhanuddin
berlokasi di Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Almarhum Syekh Burhanuddin adalah salah seorang penyebar Agama Islam, makamnya terletak di Kuntu Lipat Kain Kabupaten Kampar. Tempat ini banyak mendapat kunjungan terutama pada hari besar Islam dan menjelang bulan Ramadhan tiba.

PLTA Koto Panjang
berlokasi di Desa Merangin, Bangkinang Barat, Kabupaten Kampar, ± 88 km dari kota Pekanbaru. Di Danau PLTA Koto Panjang ini dapat kita saksikan pemandangan alam yang sangat indah, dengan deretan bukit-bukit yang ditumbuhi pepohonan dengan jenis yang beragam. Luas areal PLTA Koto Panjang ini sekitar 12.900 Ha.

Hutan Wisata Rimbo Terantang,
Objek wisata ini berada di desa Padang Lawas yang merupakan objek wisata yang memiliki keindahan alam kawasan hutan yang masih asli dengan flora yang sangat khas. Hutan wisata ini juga berfungsi sebagai tempat penelitian. Terutama fenomena alam baik flora maupun fauna. Jenis objek wisata ini adalah wisata petualangan dengan menelusuri hutan sambil menikmati kesegaran dan ketenangan serta keindahan alam di dalam dan disekitar hutan tersebut.

Kawasan Bangkinang Siabu
memiliki daya tarik alam yang khas dan indah, kondisi floranya cukup terjaga dengan baik khawasan juga dijadikan pusat perternakan lebah madu yang menghasilkan tawon yang berkualitas baik, dan di dalamnya dijadikan tempat pembibitan ikan. Objek wisata ini terletak di desa Siabu Kecamatan Bangkinang Barat.

Taman Rekreasi Bukit Cadika
dikembangkan dari keindahan alam yang ada disekitarnya dengan menata dan melengkapi fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan sehingga membentuk taman rekreasi dan juga dipergunakan sebagai tempat camping (bumi perkemahan) dan play ground. Kawasan ini terletak di tengah kota Bangkinang.

Rumah Asli Lontiok
terletak di desa Sipungguk Kecamatan Bangkinang Barat yang berusia lebih dari 100 tahun, daya tariknya terletak pada arsitekturnya yang mencerminkan budaya masyarakat Melayu Darat, dengan perpaduan budaya Islam.

Kawasan Bangkinang Kuok
ini berada di desa Siabu Kecamatan Bangkinang Barat yang merupakan objek wisata yang memiliki keindahan alam kawasan hutan yang masih asli dengan flora yang sangat khas. Hutan wisata ini juga berfungsi sebagai tempat penelitian. Terutama fenomena alam baik flora maupun fauna. Jenis objek wisata ini adalah wisata petualangan dengan menelusuri hutan sambil menikmati kesegaran dan ketenangan serta keindahan alam di dalam dan disekitar hutan tersebut.

Kawasan Kuala
merupakan objek wisata alam yang memiliki Keindahan alam yang sangat menarik dan menabjubkan yang terletak 40 menit dari desa Air Tiris Kecamatan Kampar. Daya tarik kawasan ini adalah keindahan alamnya yang ditunjang oleh lansekap yang masih alami dan atraktif.

Alam Muara Mentawai
merupakan objek wisata alam yang memiliki Keindahan alam yang sangat menarik dan menakjubkan yang terletak 30 menit dari desa Air Tiris Kecamatan Kampar. Daya tariknya adalah kawasan taman suaka marga satwa yang menjadi habitat bagi berbagai jenis burung serta keindahan floranya yang ditunjang oleh kawasan lansekap yang masih alami dan atraktif.

Taman Wisata Margasatwa
Obyek wisata ini berupa kawasan taman suaka marga satwa yang menjadi habitat bagi berbagai jenis burung, baik burung yang sepanjang masa menetap di kawasan ini, maupun burung-burung yang secara teratur bermigrasi dan menetap sementara dikawasan ini. Kekayaan fauna, diantaranya kupu-kupu dan kumbang-Âkumbang yang memiliki keterkaitan dengan habitat ini, yang keindahan ditunjang oleh keberadaan flora-flora khas yang tumbuh dikawasan ini, baik dari jenis tumbuhan kecil, perdu hingga pohonÂ-pohon besar lainnya menjadi dayatarik objek wisata ini. Lokasi objek wisata ini berada di desa Sialang Kubang Kecamatan Siak Hulu. Lansekap kawasan yang masih alami dilokasi obyek wisata ini menjadi daya tarik yang sangat kuat, sehingga banyak dikunjungi para wisatawan, terutarna bagi wisatawan yang tertarik untuk mempelajari fenomena alam, baik flora maupun fauna.

Pemandian Alam Petapahan,
Pemandian Alam Petapahan ini terletak di Desa Petapahan Kecamatan Tapung. Merupakan tempat pemandian dengan sumber mata air berasal dari alam. Daya tarik objek wisata ini adalah keindahan alam di sekitar tempat pemandian Petapahan ini, terdapat jalan setapak untuk mencapai ke pemandian dan untuk menikmati keindahan alamnya. Lokasi obyek wisata ini sangat menarik, terutama suasana alami yang ada, dan struktur lansekap disekitar lokasi yang sangat atraktif, sangat sesuai untuk bersantai melepas lelah, karena ketersediaan fasifitas-fasilitas pendukung yang disediakan, seperti warung, rumah makan bersuasana tradisional, shefter-shelter yang nyaman untuk bercengkrama.

Taman Rekreasi Sekijang
ini dikembangkan dari sejarah yang dimiliki oleh tempat ini, yaitu sebagai tempat persembunyian sepasang pengantin yang melakukan kawin lari. Lokasi wisata ini berada di desa Sekijang di Kecamatan Tapung Hilir. Perkawinan kawin lari merupan adat istiadat yang masih ada sampai saat ini terutama dilakukan oleh keturunan asli masyarakat kecamatan ini. Selain sejarah tempat ini, daya tarik objek wisata ini adalah keindahan alam yang telah tertata baik yang berada di sekitar taman rekreasi tersebut.

Air Terjun Alahan
merupakan objek wisata berupa keadaan Sungai kampar yang memiliki banyak jeram dengan air terjun Keadaan Sungai Kampar yang memiliki banyak jeram dengan air terjun-air terjun yang sangat indah untuk dinikmati serta menarik untuk diarungi dengan menggunakan perahu khusus. Lokasi objek wisata tersebut terletak hulu sungai Kampar Kecamatan XIII Koto Kampar. Daya tarik obyek wisata ini adalah keindahan serta kesegaran udara dan yang mengundang wisatawan terutama bagi wisatawan yang memiliki jiwa petualangan dalam mengangumi keberadaan alam. Kekayaan fauna yang terdapat di obyek wisata ini yang memiliki keterkaitan dengan habitat ini, keindahan yang ditunjang oleh keberadaan flora flora khas yang tumbuh dikawasan ini, serta Lansekap kawasan yang masih alami dilokasi obyek wisata ini menjadi daya tarik yang sangat kuat.***


Sumber :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=4138&Itemid=1481

Sumber Gambar :
http://www.semestaindonesia.com/cbn/?p=1920

Potensi Wisata Indragiri Hulu


TAMAN NASIONAL BUKIT TIGA PULUH : Luas keseluruhan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) adalah 144.223 Ha. Dengan ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah (lowland tropical rain forest), kawasan ini merupakan peralihan antara hutan rawa dan hutan pegunungan dengan ekosistem yang unik dan berbeda dibandingkan dengan kawasan taman nasional lainnya yang ada di Indonesia. Bukit Tigapuluh merupakan hamparan perbukitan yang terpisah dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan terletak di perbatasan Provinsi Jambi dan Riau, daerah ini merupakan daerah tangkapan air (catchment area) sehingga membentuk sungai-sungai kecil dan merupakan hulu dari sungai-sungai besar di daerah sekitarnya. Beberapa jenis fauna yang dapat dijumpai di Taman Nasional Bukit Tigapuluh antara lain : Harimau Sumatera, Beruang Madu, Tapir, Siamang, Kancil, Babi Hutan, Burung Rangkong, Kuaw, dan berbagai jenis satwa lainnya. Sedangkan jenis flora langka yang diduga endemik di kawasan tersebut adalah Cendawan Muka Rimau (Rafflesia haseltii). Selain merupakan habitat dari berbagai jenis flora dan fauna langka dan dilindungi , kawasan TNBT juga merupakan tempat hidup dan bermukim beberapa komunitas suku terasing seperti Talang Mamak, Anak Rimba dan Melayu Tua, yang menjadikan kawasan ini menarik untuk dijelajahi.


DANAU RAJA : Disamping sebagai objek wisata alam, kawasan ini Juga digunakan sebagai pusat kesenian melayu Indragiri dan pusat hiburan rakyat dengan kegiatan Tahunan seperti pemilihan raja dan ratu indragiri. Kemudian juga merupakan tempat kegiatan olahraga Tradisional seperti pacu sampan.
Lokasi terletak di Kecamatan Rengat dan potensi ini masih belum dikembangkan, Selain itu terdapat juga Danau Menduyan di desa Kota Lama, Danau Hulu di desa Danau baru.


BUDAYA SUKU ASLI TALANG MAMAK:

Satu-satunya suku pedalaman yang masih hidup dan berkembang ini adalah suku Talang Mamak yang bermukim di pedalaman Kecamatan Seberida dan Pasir Penyu dengan populasi yang relatif kecil. Mereka hidup dengan memanfaatkan hasil hutan, menangkap ikan dan sebagainya. Disamping itu mereka juga sangat berpegang teguh pada kepercayaan dan kebudayaannya.

Obyek lain yang dapat dilihat seperti Baju Bersyahadat dan pedang Perantas tanda kebesaran Patih Suku Talang Mamak di desa Talang Durian Cacar, Makam Suku Talang Mamak yang dibuat berbentuk Nisan dari kayu dan disusun menyerupai atap.
Potensi wisata budaya ini terletak di kecamatan Seberida dan Kecamatan Kelayang, dan masih belum dikembangkan.

KESENIAN TARI RENTAK BULIAN: Kesenian daerah yang cukup menonjol di Kabupaten Indragiri Hulu salah satunya Adalah seni tari RENTAK BULIAN yang biasa digunakan dalam upacara pengobatan. Tarian ini pernah menjuarai festival tari tingkat Nasional Potensi wisata budaya ini masih belum dikembangkan.


SITUS CAGAR BUDAYA

Situs cagar budaya berupa Komplek makam Raja-raja yang berada bebeapa lokasi seperti : Makam keturunan Raja Indragiri/Mohom Saleh di Tambak, makam Raja Indragiri/Narasinga II di desa Koto Lama, Makam Raja Japura dan Makam Datuk Bendahara
Komplek Makam Raja- Raja Rengat idah Hitam di desa Japura,


RUMAH TINGGI:
Lokasi : Kecamatan Rengat
Jenis objek wisata: budaya Keterangan : Potensi belum dikembangkan


AIR TERJUN
Keindahan air terjun yang ada di beberapa Kecamatan seperti : Air terjun Sungai Arang di desa Sungai Arang, Air terjun Pontianai di desa Pontianai, air terjun Pejangki di desa Pejangki, air terjun Nunusan di desa Sanglep, air terjun Siamang, Buyung, Pintu Tuuh dan Tembulun di desa Rantau langsat, air terjun Bukit Lancang di desa Tualang Lakat


WISATA GOA

Potensi Wisata Goa dengan obyek seperti Goa Hulu sungai Pampang, Goa Hulu sungai Keruh,Goa Hulu sungai dan Goa Hulu sungai Kandi yang terletak di Desa Anak Talang,

Obyek lainnya yang juga merupakan daya tarik wisata untuk dikembangkan seperti :
- Duplikat Istana Raja Indragiri di Rengat
- Kolam Loyang di Kecamatan Kelayang
- Perahu Kijang Serong (Perahu kebesaran Raja) di desa Petonggan


Sumber :
http://www.inhu.go.id/pd_pariwisata.php

http://nntp.riau.go.id/index.php?mod=halutama&link=inhu

Profil Kabupaten Indragiri Hilir


Kabupaten Indragiri Hilir dengan Ibu Kota Tembilahan adalah sebuah daerah dengan perkebunan kelapa terluas di Indonesia bahkan di dunia yang terletak di bagian selatan Provinsi Riau. Daerah ini terkenal dengan julukan "Negeri Seribu Parit" karena daerah ini terdiri dari perairan, sungai, rawa-rawa, dan perkebunan kelapa yang dipisahkan oleh ribuan parit.


Informasi Umum

Secara geografis daerah ini berada pada 0º36' LU, 1º07' LS dan antara 102º32' dan 104º10 BT, dengan luas daerah 13.798,37 km², lautan 6,318 dan perairan umum 888,97 km² yang berbatasan dengan daerah sebagai berikut :

Utara : Kabupaten Tanjung Jabung, Provinsi Jambi

Selatan : Kabupaten Pelalawan

Barat : Kabupaten Indragiri Hulu

Timur : Kabupaten Kepulauan Kepri

Jumlah penduduk Kabupaten Indragiri Hilir mencapai 647.512 jiwa yang terdiri dari sejumlah suku/ etnik, seperti Banjar dari Kalimantan, Bugis dari Sulawesi, dan Melayu dari Jambi. Sementara ekonomi Kabupaten Indragiri Hilir bersandar pada sektor perkebunan yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan kehutanan. Berdasarkan aktifitas bisnis/ sumber kehidupan, Kabupaten Indragiri Hilir terdiri dari 69.01% sektor pertanian, 8.58% pelayanan, 7.74% perdagangan, 1.54% industri dan yang lain-lain 1.54%. Luas areal untuk sektor pertanian adalah 38.181 Ha, sementara sektor perkebunan memiliki lahan seluas 607.708 Ha.

Kabupaten Indragiri Hilir memiliki iklim tropis basah, dengan curah hujan tertinggi 1.300 mm. Musim penghujan tiba pada bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau tanpa hujan berlangsung selama 3 (tiga) bulan dan menimbulkan masalah dalam memperoleh air bersih , irigasi dan lain-lain. Arus angin sepanjang tahun merupakan angin utara dan angin selatan. Sepanjang musim angin utara, gelombang dan pasang relatif tinggi hingga mampu membawa air asin ke arah hulu sungai.

Secara umum kondisi tanah terdiri dari tanah gambut dan rawa-rawa yang sangat cocok untuk perkebunan kelapa hybrida, itulah sebabnya Kabupaten Indragiri Hilir berperan sebagai lumbung kelapa di Provinsi Riau bahkan di Indonesia. Posisi Indragiri Hilir yang strategis memainkan peranan penting untuk perkembangan daerah dimasa depan karena daerah ini didukung oleh 2 pelabuhan laut yang diperuntukkan bagi aktifitas ekspor lintas batas yaitu Pelabuhan Sungai Guntung dan Kuala Enok.

Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendukung kelancaran aktifitas dunia usaha, pemerintah daerah telah membangun beberapa fasilitas dan infrastruktur. Adapun fasilitas yang telah tersedia di daerah ini merupakan; transportasi darat (dapat diakses oleh kendaraan roda 4), transportasi udara (Bandara Baru di Sungai Salak/ Tempuling, yang akan segera dioperasikan), transportasi laut (Pelabuhan), dibangun di 3 (tiga) lokasi: Kuala Enok, Sungai Guntung, dan Kuala Gaung. Jaringan listrik disupplai di 32 cabang dengan total kapasitas (49.986.196 KWH), Telekomunikasi (telepon kabel, telepon selular dan internet), Fasilitas Kesehatan (1 Rumah Sakit gawat darurat 24 jam & Puskesmas di setiap Kecamatan), supplai air bersih dikelola PDAM, kapasitas 125 1/detik di 7 Ibu Kota Kecamatan, dan fasilitas pendukung lainnya; Perbankan (Bank Nasional & Daerah), Akomodasi (Hotel & penginapan).


Sumber :
http://nntp.riau.go.id/index.php?mod=halutama&link=inhil
13 April 2009

Sejarah Indragiri Hilir

Untuk melihat latar belakang sejarah berdirinya Kabupaten Indragiri Hilir sebagai salah satu daerah otonom, dapat ditinjau dalam dua periode, yaitu periode sebelum kemerdekaan dan periode sesudah kemerdekaan Republik Indonesia.

1. Periode Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia

a. Kerajaan Keritang

Kerajaan ini didirikan sekitar awal abad ke-6 yang berlokasi di wilayah Kecamatan Keritang sekarang. Seni budayanya banyak dipengaruhi oleh agama Hindu, sebagaimana terlihat pada arsitektur bangunan istana yang terkenal dengan sebutan Puri Tujuh (Pintu Tujuh) atau Kedaton Gunung Tujuh. Peninggalan kerajaan ini yang masih dapat dilihat hanya berupa puing.

b. Kerajaan Kemuning

Kerajaan ini didirikan oleh raja Singapura ke-V yang bergelar Raja Sampu atau Raja Iskandarsyah Zulkarnain yang lebih dikenal dengan nama Prameswara. Pada tahun 1231 telah diangkat seorang raja muda yang bergelar Datuk Setiadiraja. Letak kerajaan ini diperkirakan berada di Desa Kemuning Tua dan Desa Kemuning Muda. Bukti-bukti peninggalan kerajaan ini adalah ditemukannya selembar besluit dengan cap stempel kerajaan, bendera dan pedang kerajaan.

c. Kerajaan Batin Enam Suku

Pada tahun 1260, di daerah Indragiri Hilir bagian utara, yaitu di daerah Gaung Anak Serka, Batang Tuaka, Mandah dan Guntung dikuasai oleh raja-raja kecil bekas penguasa kerajaan Bintan, yang karena perpecahan sebagian menyebar ke daerah tersebut. Diantaranya terdapat Enam Batin (Kepala Suku) yang terkenal dengan sebutan Batin Nan Enam Suku, yakni :
Suku Raja Asal di daerah Gaung.
Suku Raja Rubiah di daerah Gaung.
Suku Nek Gewang di daerah Anak Serka.
Suku Raja Mafait di daerah Guntung.
Suku Datuk Kelambai di daerah Mandah.
Suku Datuk Miskin di daerah Batang Tuaka

d. Kerajaan Indragiri

Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri tahun 1298 dengan raja pertama bergelar Raja Merlang I berkedudukan di Malaka. Demikian pula dengan penggantinya Raja Narasinga I dan Raja Merlang II, tetap berkedudukan di Malaka. Sedangkan untuk urusan sehari-hari dilaksanakan oleh Datuk Patih atau Perdana Menteri. pada tahun 1473, waktu Raja Narasinga II yang bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Fil Alam ( Sultan Indragiri IV ), beliau menetap di ibu kota kerajaan yang berlokasi di Pekan Tua sekarang.

Pada tahun 1815, dibawah Sultan Ibrahim, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Rengat. dalam masa pemerintahan Sultan Ibrahim ini, Belanda mulai campur tangan terhadap kerajaan dengan mengangkat Sultan Muda yang berkedudukan di Peranap dengan batas wilayah ke Hilir sampai dengan batas Japura.

Selanjutnya, pada masa pemerintahan Sultan Isa, berdatanganlah orang - orang dari suku Banjar dan suku Bugis sebagai akibat kurang amannya daerah asal mereka. Khusus untuk suku Banjar, perpindahannya akibat dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Gubernement pada tahun 1859 sehingga terjadi peperangan sampai tahun 1963.

e. Masa Penjajahan Belanda

Dengan adanya tractaat Van Vrindchaap ( perjanjian perdamaian dan persahabatan ) tanggal 27 September 1938 antara Kerajaan Indragiri dengan Belanda, maka Kesultanan Indragiri menjadi Zelfbestuur. berdasarkan ketentuan tersebut, di wilayah Indragiri Hilir ditempatkan seorang Controlleur yang membawahi 6 daerah keamiran :
Amir Tembilahan di Tembilahan.
Amir Batang Tuaka di Sungai Luar.
Amir Tempuling di Sungai Salak.
Amir Mandah dan Gaung di Khairiah Mandah.
Amir Enok di Enok.
Amir Reteh di Kotabaru

Controlleur memegang wewenang semua jawatan, bahkan juga menjadi hakim di pengadilan wilayah ini sehingga Zelfbestuur Kerajaan Indragiri terus dipersempit sampai dengan masuknya Jepang tahun 1942.

f. Masa Pendudukan Jepang

Balatentara Jepang memasuki Indragiri Hilir pada tanggal 31 Maret 1942 melalui Singapura terus ke Rengat. Tanggal 2 April 1942 Jepang menerima penyerahan tanpa syarat dari pihak Belanda yang waktu itu dibawah Controlleur K. Ehling . Sebelum tentara Jepang mendarat untuk pertama kalinya di daerah ini dikumandangkan lagu Indonesia Raya yang dipelopori oleh Ibnu Abbas.

Pada masa pendudukan Jepang ini Indragiri Hilir dikepalai oleh seorang Cun Cho yang berkedudukan di Tembilahan dengan membawahi 5 Ku Cho, yaitu :
Ku Cho Tembilahan dan Tempuling di Tembilahan.
Ku Cho Sungai Luar.
Ku Cho Enok.
Ku Cho Reteh.
Ku Cho Mandah.
Pemerintahan Jepang di Indragiri Hilir sampai bulan Oktober 1945 selama lebih kurang 3,5 tahun.
2. Periode Setelah Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pada awal Kemerdekaan RI, Indragiri (Hulu dan Hilir) masih merupakan satu kabupaten. Kabupaten Indragiri ini terdiri atas 3 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Kuantan Singingi dengan ibukotanya Taluk Kuantan, Kewedanaan Indragiri Hulu dengan ibukotanya Rengat dan Kewedanaan Indragiri Hilir dengan ibukotanya Tembilahan.
Kewedanaan Indragiri Hilir membawahi 6 wilayah yaitu :
Wilayah Tempuling/Tembilahan.
Wilayah Enok.
Wilayah Gaung Anak Serka.
Wilayah Mandah/Kateman.
Wilayah Kuala Indragiri.
Wilayah Reteh

Perkembangan tata pemerintahan selanjutnya, menjadikan Indragiri Hilir dipecah menjadi dua kewedanaan masing-masing :

a. Kewedanaan Indragiri Hilir Utara meliputi kecamatan :
Kecamatan Tempuling.
Kecamatan Tembilahan.
Kecamatan Gaung Anak Serka.
Kecamatan Mandah.
Kecamatan Kateman.
Kecamatan Kuala Indragiri dengan ibukotanya Tembilahan.

b. Kewedanaan Indragiri Hilir Selatan meliputi kecamatan :
Kecamatan Enok.
Kecamatan Reteh dengan ibukotanya Enok.


3. Pemekaran Kabupaten Indragiri Hilir

Merasa persyaratan administrasinya terpenuhi maka masyarakat Indragiri Hilir memohon kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Riau, agar Indragiri Hilir dimekarkan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II yang berdiri sendiri (otonom).

Setelah melalui penelitian, baik oleh Gubernur maupun Departemen Dalam Negeri, maka pemekaran diawali dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau (Propinsi Riau) tanggal 27 April 1965 nomor 052/5/1965 sebagai Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir.

Pada tanggal 14 Juni 1965 dikeluarkanlah Undang-undang nomor 6 tahun 1965 Lembaran Negara Republik Indonesia no. 49, maka Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir resmi dimekarkan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Indragiri Hilir (sekarang Kabupaten Indragiri Hilir) yang berdiri sendiri, yang pelaksanaannya terhitung tanggal 20 November 1965.


Sumber :
http://inhilkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=72&Itemid=34

Sumber Gambar:
http://nntp.riau.go.id/index.php?mod=halutama&link=inhil

Profil Kabupaten Bengkalis


Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Riau, secara geografi terletak antara 2o30 - 0o17 LU dan antara 100o52-102o10 BT, bebatasan dengan Selat Malaka disebelah uutara, Kabupaten Siak diselatan, KabupatenRokaan Hilir dibarat, Kabupaten Karimun Provinsi kepulauan Riau ditimur. Luas wilayah Kabupaten Bengkalis 11.481,77 Km2.

Secara administratif, Kabupaten ini terbagi menjadi delapan Kecamatan. Pada tahun 2006 memiliki jumlah penduduk 520.241 jiwa yang teridiri dari 268.059 jiwa pria dan 252.182 jiwa wanita dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 4,48%.
Dilihat dari segi ekonomi, total nilai PDRB menurut harga konstan yang dicapai Kabupaten Bengkalis pada tahun 2006 sebesar 25.161,10 (dalam jutaan rupiah) dnegan konstribusi terbesar datang dari sektor pertambangan sebesar 82,90%, disusul oleh industri pengolahan sebesar 5,06% dan dari sektor perdagangan, hotel, restoran sebesar 4,37%.

Disektor perkebunan, komoditi utama yang dihasilkan Kabupaten Bengkalis pada tahun 2006 berupa kelapa sawit (189.697 ton), kelapa dalam (52.559 ton) dan karet (42.825 ton). Kabupaten ini dikenal dengan penghasil minyak bumi terbesar di Provinsi Riau dan di Indonesia, Eksplorasi minyak ini dilakukan oleh PT Caltex Pacific Indonesia dan konsesi dengan Kondur Petroleum. Di sektor perindustrian Selain daripada kilang pengelolaan minyak yang dimiliki oleh Pertamina UP II Sungai Pakning, saat ini juga terdapat beberapa industri seperti kayu gergaji, perabotan, dan mangrove arang.

Di Kabupaten Bengkalis terdapat hutan seluas 463.441 ha yang tersebar di 8 kecamatan di kabupaten ini Hutan di daerah ini terdiri dari berbagai macam flora dan fauna. Hutan mangrove banyak terdapat di tepian pantai. Hutan lainnya ada yang menghasilkan kayu gelondongan, rotan, resin, dan bahan baku lainnya yang berasal dari hutan. Disektor pariwisata, Letak geografis Kabupaten Bengkalis terdiri dari pulau-pulau dengan daerah pantai pesisir yang menghadap langsung ke Selat Malaka dan pemandangan yang indah sangat perhatian para turis, berpusat di Pulau Rupat.

Kabupaten ini juga memiliki berbagai sarana dan prasarana pendukung diantaranya jalan darat, tiga buah Pelabuhan yaitu Pelabuhan Sei Pakning, Pelabuhan Bengkalis, dan Pelabuhan Selat Panjang, juga terdapat dukungan sarana pembangkit tenaga listrik, air,gas dan telekomunikasi.


Sumber Data:
Riau Dalam Angka 2007
(01-10-2007)
BPS Provinsi Riau
Jl. Pattimura No. 12, Pekanbaru 28131
Telp (0761) 23042
Fax (0761) 21336

Sumber :
http://regionalinvestment.com/newsipid/id/displayprofil.php?ia=1408

Sumber Gambar:
http://keluargabaru.brinkster.net/peta%20bengkalis.htm